Hepatitis autoimun
Hepatitis autoimun (AIH), yang
dahulu disebut sebagai lupoid hepatitis atau hepatitis kronik autoimun, adalah
suatu gangguan hati kronis nekroinflamatori yang belum diketahui penyebabnya,
dengan karakteristik secara histologik berupa infiltrasi sel mononuklear di
saluran portal dan secara serologis adanya autoantibodi terhadap antigen hati
yangspesifikdan yang tidak spesifik serta adanya peningkatan kadar
immunoglobulin G (igG) serum (Krawitt, 1996;Sukerek, 2002).
Hepatitis autoimun merupakan
penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanyakematian sel hati,
pembentukan jaringan ikat yang disertai pembentukan benjolan. Hal inidapat
menyebabkan gangguan aliran darah ke hati dan mengganggu fungsi hati. Sistem
kekebalan tubuh biasanya membuat antibodi untuk menyerang bakteri, virus, dan
kuman lainnya. Pada hepatitis autoimun,sistem kekebalan tubuh membuat antibodi
terhadap sel-sel hati yang dapat menyebabkan kerusakan dan sirosis.
Penyebab
Penyebab dari hepatitis autoimun
tidak diketahui. Beberapa agen diperkirakan dapat dianggap sebagai pencetus
terjadinya proses autoimun pada hepatitis autoimun antara lain virus, bakteri,
bahan kimia, obat, dan faktor genetik. Semua virus hepatotropik dapat dianggap
sebagai pencetus hepatitis autoimun, termasuk virus measles, hepatitis A,
hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, herpes simpleks tipe 1 dan virus
Epstein-Barr(Manns,1995;Manns,1999)
Studi
awal menyebutkan bahwa hepatitis autoimun adalah suatu penyakit kelainan
imunoregulasi yang ditandai dengan disfungsi pada sel T-supresor. Hal ini
menyebabkan produksi autoantibodi, yang diproduksi oleh sel B, melawan antigen
permukaan hepatosit (autoantigen) (Mabee, 2000;Sherlock, 1999).
Suatu
model spekulatif dari imunopatogenesis hepatitis autoimun menunjukkan bahwa
secara genetik, infeksi virus pada hati yang bersifat hepatotropik atau
non-hepatotropik mengakibatkan suatu respon sel T yang menyebabkan
hepatotoksisitas dan menstimulasi respon sel B terhadap virus-mediated surface
neoantigens. Selanjutnya NK cells dan MHC-unrestricted CD8+ killer cells akan
mengenali dan membunuh autoantibody-coated liver cels oleh antibody-dependent
cellular cytotoxicity (ADCC), sehingga terjadi apoptosis hepatosit (Mabee,
2000).
Bukti menyebutkan bahwa kerusakan
hati pada penderita dengan hepatitis autoimun merupakan hasil dari serangan
cell mediated autoimun. Serangan ini ditujukan pada hepatosit yang secara
genetik mudah terpengaruh/rentan. Gambaran aneh dari human leukocyte antigen
(HLA) kelas 2 pada permukaan hepatosit memfasilitasi presentasi sel hati normal
dipilih untuk proses antigen sel. Aktivasi sel ini , secara bergiliran,
menstimulasi ekspansi klonal dari autoantigen-sensitized cytotoxic T
lymphocytes. T limfosit sitotoksik menginfiltrasi jaringan hati, mengeluarkan
cytokines dan merusak sel hati (Raghuraman, 2002).
Penyebab
dari gambaran aneh dari HLA masih belum jelas. Ini mungkin dicetuskan olehfaktor
genetik, infeksi virus (mis. hepatitis akut A atau B, virus Epstein-Barr) dan
bahankimia (mis. interferon, melatonin, alfa metildopa, oksifenisatin,
nitrofurantoin, asam tienilik). Reseptor asialoglikoprotein dan sitokrom
mono-oksigenase P-450 IID6 ditengarai sebagai pencetus autoantigen (Raghuraman,
2002).
Pendapat terbaru tentang mekanisme
kerusakan hati autoimun adalah secara tak langsung melibatkan interaksi antara CD4+ T
limfosit dengan suatu self-antigenic peptide (Sukerek, 2002).
Beberapa penderita secara genetik
rentan untuk menjadi hepatitis autoimun. Kondisi ini berhubungan dengan
komplemen alel C4AQO dan HLA halotipe B8, B14, DR3, DR4 danDw3. Delesi gen C4A
dihubungkan dengan timbulnya hepatitis autoimun pada usia mudadan penderita
dengan HLA DR3 positif lebih sering menjadi penyakit agresif, terjadi pada usia
yang lebih muda, kurang responsive terhadap terapi medik sehingga lebih sering
memerlukan tranplantasi hati. Sedangkan pada penderita dengan HLA DR4 positif
lebih sering timbul dengan manifestasi ekstrahepatik (Raghuraman, 2002;Sukerek,
2002.
Secara genetik juga dilaporkan
tentang defiensi C4 parsial. C4 diketahui berperan pada netralisasi virus.
Kegagalan mengeliminasi virus dapat menyebabkan terjadinya reaksi imun melawan
antigen pada sel yang terinfeksi. Diantara virus-virus yang dapat mencetuskanreaksi
ini adalah rubella, Epstein-Barr dan hepatitis A,B dan C (Sukerek, 2002).
Obat-obatan
juga dapat mencetuskan terjadinya hepatitis autoimun. Namun tak satupun obat
yang diidentifikasi sebagai penyebab hepatitis autoimun (Manns, 1999).
Gejala
Hepatitis autoimun memiliki
kecenderungan menimbulkan ciri-ciri yang berbeda pada tiap orang yang
menderitanya. Pada mereka yang mengalami gejala ringan, kecil kemungkinannya
berkembang menjadi sirosis hati. Pada penderita hepatitis autoimun yang berat,
sekitar 40 % penderita mengalami kematian dalam waktu 6 bulan jika tidak
diobati. Untungnya, keadaan yang parah hanya terjadi 20 % dari kasus yang
terjadi. Penderita yang mengalami hepatitis autoimun yang ringan biasanya akan
sembuh spontan. Sedangkan mereka yang mengalami perkembangan menjadi sirosis
hati akan menimbulkan komplikasi yang lain yaitu kanker hati.
Gejala
yang ditimbulkannya mirip dengan gejala hepatitis virus kronis. Gejala yang
timbul perlahan-lahan atau mendadak tiba-tiba yang awalnya mirip hepatitis
akut. Hepatitis autoimun ini terbagi atas beberapa kelompok yang berbeda,
yaitu:
1. Hepatitis autoimun tipe I, mirip
penyakit lupus. Pada pemeriksaan darah ditemukan ANA dan peningkatan kadar
globulin. Sering dijumpai pada wanita muda hingga usia pertengahan dengan
keluhan lesu, hilangnya nafsu makan, jerawat, nyeri sendi dan kuning.
2. Hepatitis autoimun tipe II,
biasanya pada anak-anak dan sering dijumpai pada penduduk di daerah
Mediterania. Pada kelainan tipe ini, dijumpai anti-LKM antibodi pada tubuhpenderita.
Hepatitis autoimun tipe II terbagi lagi atas 2 golongan, yang pertama berdasarkan reaksi autoimun ( IIa ) dan yang
lainnya (IIb) adalah reaksi autoimun yang berkaitan dengan hepatitis C.
a. Tipe II a: banyak ditemukan pada
wanita muda. Pada kelainan ini ditemukan peningkatan kadar globulin di dalam
darah penderita dan memberikan respon yang baik terhadap steroid.
b.Tipe II b: tipe ini berkaitan
dengan infeksi hepatitis C ; cenderung terjadi padapria-pria berusia lanjut dan
sering ditemukan di negara-negara di daerah Mediterania. Pada tipe ini, kadar
globulin darah normal dan memberikan respons yang baik terhadap interferon. Selain
itu ada beberapa gejala lainnya yang timbul pada wanita muda penderita
hepatitis autoimun, diantaranya adalah:
1. jerawat.
2. terhentinya
siklus menstruasi(amenorea).
3. nyeri
sendi.
4. pembentukan
jaringan parut di paru-paru.
5. peradangan
kelenjar tiroid dan ginjal.
6. Anemia
Pengobatan
Secara umum, kerusakan sel-sel hati
tidak dapat direhabilitasi. Tujuan pengobatanadalahmencegah pembentukan
jaringan parut hati lebih lanjut, atau memperlambat kerusakan sel-sel hati. Sirosis
cenderung semakin memburuk jika penyebab yang mendasari tetap ada Oleh karena
itu perlu upaya untuk memperlambat atau menghentikan penyebab sirosis, misalnya:
·
Tidak minum alkohol jika
alkohol adalah penyebabnya.
·
Pengobatan untuk
mengendalikan virus hepatitis.
·
Steroid atau obat penekan
kekebalan lainnya untuk mengobati penyakit autoimun menyebabkan kerusakan hati.
·
Penghapusan kelebihan zat
besi yang terjadi pada hemokromatosis.
·
Berbagai pengobatan
mungkin disarankan, tergantung pada tingkat keparahan sirosis dan gejala yang
berkembang, antara lain:
·
Diet rendah natrium atau
diuretik untuk mengurangi cairan yang terakumulasi dalam tubuh.
·
Obat untuk mengurangi
gatal.
·
Obat-obatan yang dapat
membantu mengurangi hipertensi portal.
·
Pengurangan cairan yang
menumpuk di perut (ascites).
Bila pasien mengalami perdarahan
usus sehingga muntah darah, atau mengeluarkan darah melalui tinja, atau tinja
menjadi hitam, dokter mungkin akan segera melakukan tindakan untuk
mengatasinya. Berbagai teknik bedah dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan
dan mengurangi risikonya lebih lanjut.
Dalam kasus yang parah di mana
jaringan parut meluas dan hati nyaris tidak bisa berfungsi, maka transplantasi
hati mungkin adalah satu-satunya pilihan.
Hepatitis autoimun (AIH), yang
dahulu disebut sebagai lupoid hepatitis atau hepatitis kronik autoimun, adalah
suatu gangguan hati kronis nekroinflamatori yang belum diketahui penyebabnya,
dengan karakteristik secara histologik berupa infiltrasi sel mononuklear di
saluran portal dan secara serologis adanya autoantibodi terhadap antigen hati
yangspesifikdan yang tidak spesifik serta adanya peningkatan kadar
immunoglobulin G (igG) serum (Krawitt, 1996;Sukerek, 2002).
Hepatitis autoimun merupakan
penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanyakematian sel hati,
pembentukan jaringan ikat yang disertai pembentukan benjolan. Hal inidapat
menyebabkan gangguan aliran darah ke hati dan mengganggu fungsi hati. Sistem
kekebalan tubuh biasanya membuat antibodi untuk menyerang bakteri, virus, dan
kuman lainnya. Pada hepatitis autoimun,sistem kekebalan tubuh membuat antibodi
terhadap sel-sel hati yang dapat menyebabkan kerusakan dan sirosis.
Penyebab
Penyebab dari hepatitis autoimun
tidak diketahui. Beberapa agen diperkirakan dapat dianggap sebagai pencetus
terjadinya proses autoimun pada hepatitis autoimun antara lain virus, bakteri,
bahan kimia, obat, dan faktor genetik. Semua virus hepatotropik dapat dianggap
sebagai pencetus hepatitis autoimun, termasuk virus measles, hepatitis A,
hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, herpes simpleks tipe 1 dan virus
Epstein-Barr(Manns,1995;Manns,1999)
Studi
awal menyebutkan bahwa hepatitis autoimun adalah suatu penyakit kelainan
imunoregulasi yang ditandai dengan disfungsi pada sel T-supresor. Hal ini
menyebabkan produksi autoantibodi, yang diproduksi oleh sel B, melawan antigen
permukaan hepatosit (autoantigen) (Mabee, 2000;Sherlock, 1999).
Suatu
model spekulatif dari imunopatogenesis hepatitis autoimun menunjukkan bahwa
secara genetik, infeksi virus pada hati yang bersifat hepatotropik atau
non-hepatotropik mengakibatkan suatu respon sel T yang menyebabkan
hepatotoksisitas dan menstimulasi respon sel B terhadap virus-mediated surface
neoantigens. Selanjutnya NK cells dan MHC-unrestricted CD8+ killer cells akan
mengenali dan membunuh autoantibody-coated liver cels oleh antibody-dependent
cellular cytotoxicity (ADCC), sehingga terjadi apoptosis hepatosit (Mabee,
2000).
Bukti menyebutkan bahwa kerusakan
hati pada penderita dengan hepatitis autoimun merupakan hasil dari serangan
cell mediated autoimun. Serangan ini ditujukan pada hepatosit yang secara
genetik mudah terpengaruh/rentan. Gambaran aneh dari human leukocyte antigen
(HLA) kelas 2 pada permukaan hepatosit memfasilitasi presentasi sel hati normal
dipilih untuk proses antigen sel. Aktivasi sel ini , secara bergiliran,
menstimulasi ekspansi klonal dari autoantigen-sensitized cytotoxic T
lymphocytes. T limfosit sitotoksik menginfiltrasi jaringan hati, mengeluarkan
cytokines dan merusak sel hati (Raghuraman, 2002).
Penyebab
dari gambaran aneh dari HLA masih belum jelas. Ini mungkin dicetuskan olehfaktor
genetik, infeksi virus (mis. hepatitis akut A atau B, virus Epstein-Barr) dan
bahankimia (mis. interferon, melatonin, alfa metildopa, oksifenisatin,
nitrofurantoin, asam tienilik). Reseptor asialoglikoprotein dan sitokrom
mono-oksigenase P-450 IID6 ditengarai sebagai pencetus autoantigen (Raghuraman,
2002).
Pendapat terbaru tentang mekanisme
kerusakan hati autoimun adalah secara tak langsung melibatkan interaksi antara CD4+ T
limfosit dengan suatu self-antigenic peptide (Sukerek, 2002).
Beberapa penderita secara genetik
rentan untuk menjadi hepatitis autoimun. Kondisi ini berhubungan dengan
komplemen alel C4AQO dan HLA halotipe B8, B14, DR3, DR4 danDw3. Delesi gen C4A
dihubungkan dengan timbulnya hepatitis autoimun pada usia mudadan penderita
dengan HLA DR3 positif lebih sering menjadi penyakit agresif, terjadi pada usia
yang lebih muda, kurang responsive terhadap terapi medik sehingga lebih sering
memerlukan tranplantasi hati. Sedangkan pada penderita dengan HLA DR4 positif
lebih sering timbul dengan manifestasi ekstrahepatik (Raghuraman, 2002;Sukerek,
2002.
Secara genetik juga dilaporkan
tentang defiensi C4 parsial. C4 diketahui berperan pada netralisasi virus.
Kegagalan mengeliminasi virus dapat menyebabkan terjadinya reaksi imun melawan
antigen pada sel yang terinfeksi. Diantara virus-virus yang dapat mencetuskanreaksi
ini adalah rubella, Epstein-Barr dan hepatitis A,B dan C (Sukerek, 2002).
Obat-obatan
juga dapat mencetuskan terjadinya hepatitis autoimun. Namun tak satupun obat
yang diidentifikasi sebagai penyebab hepatitis autoimun (Manns, 1999).
Gejala
Hepatitis autoimun memiliki
kecenderungan menimbulkan ciri-ciri yang berbeda pada tiap orang yang
menderitanya. Pada mereka yang mengalami gejala ringan, kecil kemungkinannya
berkembang menjadi sirosis hati. Pada penderita hepatitis autoimun yang berat,
sekitar 40 % penderita mengalami kematian dalam waktu 6 bulan jika tidak
diobati. Untungnya, keadaan yang parah hanya terjadi 20 % dari kasus yang
terjadi. Penderita yang mengalami hepatitis autoimun yang ringan biasanya akan
sembuh spontan. Sedangkan mereka yang mengalami perkembangan menjadi sirosis
hati akan menimbulkan komplikasi yang lain yaitu kanker hati.
Gejala
yang ditimbulkannya mirip dengan gejala hepatitis virus kronis. Gejala yang
timbul perlahan-lahan atau mendadak tiba-tiba yang awalnya mirip hepatitis
akut. Hepatitis autoimun ini terbagi atas beberapa kelompok yang berbeda,
yaitu:
1. Hepatitis autoimun tipe I, mirip
penyakit lupus. Pada pemeriksaan darah ditemukan ANA dan peningkatan kadar
globulin. Sering dijumpai pada wanita muda hingga usia pertengahan dengan
keluhan lesu, hilangnya nafsu makan, jerawat, nyeri sendi dan kuning.
2. Hepatitis autoimun tipe II,
biasanya pada anak-anak dan sering dijumpai pada penduduk di daerah
Mediterania. Pada kelainan tipe ini, dijumpai anti-LKM antibodi pada tubuhpenderita.
Hepatitis autoimun tipe II terbagi lagi atas 2 golongan, yang pertama berdasarkan reaksi autoimun ( IIa ) dan yang
lainnya (IIb) adalah reaksi autoimun yang berkaitan dengan hepatitis C.
a. Tipe II a: banyak ditemukan pada
wanita muda. Pada kelainan ini ditemukan peningkatan kadar globulin di dalam
darah penderita dan memberikan respon yang baik terhadap steroid.
b.Tipe II b: tipe ini berkaitan
dengan infeksi hepatitis C ; cenderung terjadi padapria-pria berusia lanjut dan
sering ditemukan di negara-negara di daerah Mediterania. Pada tipe ini, kadar
globulin darah normal dan memberikan respons yang baik terhadap interferon. Selain
itu ada beberapa gejala lainnya yang timbul pada wanita muda penderita
hepatitis autoimun, diantaranya adalah:
1. jerawat.
2. terhentinya
siklus menstruasi(amenorea).
3. nyeri
sendi.
4. pembentukan
jaringan parut di paru-paru.
5. peradangan
kelenjar tiroid dan ginjal.
6. Anemia
Pengobatan
Secara umum, kerusakan sel-sel hati
tidak dapat direhabilitasi. Tujuan pengobatanadalahmencegah pembentukan
jaringan parut hati lebih lanjut, atau memperlambat kerusakan sel-sel hati. Sirosis
cenderung semakin memburuk jika penyebab yang mendasari tetap ada Oleh karena
itu perlu upaya untuk memperlambat atau menghentikan penyebab sirosis, misalnya:
·
Tidak minum alkohol jika
alkohol adalah penyebabnya.
·
Pengobatan untuk
mengendalikan virus hepatitis.
·
Steroid atau obat penekan
kekebalan lainnya untuk mengobati penyakit autoimun menyebabkan kerusakan hati.
·
Penghapusan kelebihan zat
besi yang terjadi pada hemokromatosis.
·
Berbagai pengobatan
mungkin disarankan, tergantung pada tingkat keparahan sirosis dan gejala yang
berkembang, antara lain:
·
Diet rendah natrium atau
diuretik untuk mengurangi cairan yang terakumulasi dalam tubuh.
·
Obat untuk mengurangi
gatal.
·
Obat-obatan yang dapat
membantu mengurangi hipertensi portal.
·
Pengurangan cairan yang
menumpuk di perut (ascites).
Bila pasien mengalami perdarahan
usus sehingga muntah darah, atau mengeluarkan darah melalui tinja, atau tinja
menjadi hitam, dokter mungkin akan segera melakukan tindakan untuk
mengatasinya. Berbagai teknik bedah dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan
dan mengurangi risikonya lebih lanjut.
Dalam kasus yang parah di mana
jaringan parut meluas dan hati nyaris tidak bisa berfungsi, maka transplantasi
hati mungkin adalah satu-satunya pilihan.
Terimakasih infonya, dapat semakin memahami penyakit autoimun
BalasHapus